Jakarta, 11 Mei 2026 – Iran dikabarkan mengajukan sejumlah tuntutan kepada Amerika Serikat dalam proposal terbaru terkait upaya penghentian konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah. Tuntutan tersebut mencakup penghentian perang, pencabutan tekanan ekonomi, hingga pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Menurut laporan media internasional, proposal Iran disampaikan melalui jalur mediasi dan menjadi bagian dari negosiasi untuk meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington. Pemerintah Iran menyebut tuntutan mereka sebagai hal yang “legitimate” atau sah demi memulihkan stabilitas kawasan dan kondisi ekonomi negara tersebut.
Salah satu poin utama yang diajukan Iran adalah penghentian perang dan pengurangan tekanan militer di kawasan, termasuk di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, Iran meminta Amerika Serikat mencabut blokade dan sanksi yang selama ini membatasi perdagangan serta akses ekonomi mereka.
Iran juga menuntut pencairan aset negara yang dibekukan di sejumlah bank luar negeri akibat sanksi internasional. Dana tersebut dinilai penting untuk membantu pemulihan ekonomi domestik yang selama bertahun-tahun terdampak pembatasan finansial dan perdagangan global.
Selain soal ekonomi, Iran disebut meminta jaminan keamanan dan pengakuan terhadap kepentingan strategis mereka di kawasan Teluk, termasuk terkait jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik paling penting dalam distribusi energi dunia.
Namun pemerintah Amerika Serikat menilai sebagian tuntutan Iran masih sulit diterima. Presiden Donald Trump bahkan menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian sebagai sesuatu yang “totally unacceptable” atau sama sekali tidak dapat diterima.
Pengamat geopolitik menilai negosiasi antara Iran dan AS masih menghadapi banyak hambatan karena kedua pihak memiliki kepentingan besar yang berbeda. Washington tetap menuntut pembatasan program nuklir Iran, sementara Teheran lebih fokus pada pencabutan sanksi dan pemulihan ekonomi nasional.
Meski demikian, jalur diplomasi disebut masih terbuka melalui mediasi beberapa negara. Dunia internasional kini terus memantau perkembangan pembicaraan tersebut karena hasil negosiasi akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi global.