Jakarta, 6 Mei 2026 — Badan Pusat Statistik mengungkap bahwa penentuan wilayah rukun warga (RW) kumuh di Jakarta tidak hanya dilihat dari kondisi bangunan semata, tetapi juga berdasarkan sejumlah indikator lain yang berkaitan dengan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Menurut penjelasan BPS, terdapat 11 kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi kawasan kumuh di ibu kota. Penilaian tersebut mencakup kondisi tempat tinggal, akses sanitasi, pengelolaan sampah, drainase, kepadatan penduduk, hingga ketersediaan fasilitas dasar bagi warga.
Kondisi bangunan yang tidak layak memang menjadi salah satu indikator penting, namun aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat juga memiliki pengaruh besar dalam penilaian kawasan permukiman.
Selain itu, akses terhadap air bersih, sistem pembuangan limbah, dan kualitas jalan lingkungan turut menjadi bagian dari evaluasi. Wilayah dengan infrastruktur yang buruk dan tingkat kepadatan tinggi dinilai lebih rentan masuk kategori kawasan kumuh.
BPS menyebut pendekatan tersebut dilakukan agar penanganan kawasan kumuh dapat dilakukan lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan. Pemerintah daerah diharapkan mampu melihat persoalan permukiman dari berbagai aspek sosial dan lingkungan.
Data mengenai kawasan kumuh dinilai penting sebagai dasar penyusunan kebijakan penataan kota dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan pemetaan yang lebih detail, program perbaikan lingkungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Pengamat tata kota menilai persoalan kawasan kumuh di kota besar seperti Jakarta tidak bisa dipisahkan dari faktor urbanisasi, kepadatan penduduk, dan ketimpangan akses infrastruktur. Karena itu, penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah daerah disebut terus melakukan berbagai program penataan lingkungan dan perbaikan permukiman guna meningkatkan kualitas hidup warga di kawasan padat penduduk.
Melalui pengukuran berbasis banyak indikator tersebut, diharapkan penanganan kawasan kumuh di Jakarta dapat dilakukan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.