Jakarta, 20 September 2026 – Rusia melayangkan protes resmi kepada Jepang terkait penempatan sistem rudal Typhon milik Amerika Serikat di Pulau Kyushu. Moskow menilai keberadaan sistem peluncur rudal berbasis darat tersebut dapat menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Rusia serta stabilitas kawasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan nota protes telah disampaikan kepada pihak Jepang di Moskow dan Tokyo pada 3 September 2026. Rusia juga meminta agar sistem Typhon ditarik dari wilayah Jepang. Pemerintah Rusia menegaskan keberatan tersebut berlaku terlepas dari durasi maupun alasan penempatan sistem tersebut.
Typhon merupakan sistem peluncur berbasis darat milik Amerika Serikat yang dapat menggunakan sejumlah jenis rudal. Sistem tersebut antara lain dapat meluncurkan rudal jelajah Tomahawk serta Standard Missile-6 atau SM-6. Penempatannya di Jepang menjadi perhatian Rusia karena kemampuan rudal jarak menengah tersebut dinilai dapat menjangkau wilayah strategis di kawasan Asia-Pasifik. Sistem Typhon ditempatkan di Kyushu dalam konteks latihan militer yang melibatkan Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Latihan Orient Shield 2026 dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 24 September di sejumlah wilayah Jepang.
Zakharova mengatakan Rusia sebelumnya telah beberapa kali menyampaikan kekhawatiran kepada Jepang mengenai kehadiran persenjataan tersebut. Menurut posisi resmi Moskow, penempatan Typhon di wilayah Jepang tidak dapat diterima karena dinilai menciptakan risiko baru terhadap keamanan Rusia, perdamaian regional, dan stabilitas kawasan. Rusia juga tidak menerima alasan bahwa keberadaan sistem tersebut hanya berkaitan dengan latihan militer. Moskow menuntut agar peluncur Typhon dikeluarkan dari wilayah Jepang. Pemerintah Rusia meminta Tokyo mempertimbangkan secara serius kekhawatiran keamanan yang telah disampaikan melalui jalur diplomatik.
Persoalan Typhon juga dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko dengan Duta Besar Jepang untuk Rusia Akira Muto pada pekan ini. Dalam pertemuan tersebut, pihak Rusia meminta Jepang memberikan perhatian serius terhadap isi nota protes yang sebelumnya telah dikirimkan. Moskow memandang keberadaan sistem rudal Amerika Serikat sebagai bagian dari perubahan lingkungan keamanan di kawasan Asia-Pasifik. Rusia sebelumnya juga memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas militer di dekat kawasan Timur Jauh dapat mendorongnya mengambil langkah untuk menjamin keamanan nasional. Namun, pernyataan mengenai potensi tindakan balasan itu merupakan posisi pemerintah Rusia dan bukan indikasi bahwa langkah tertentu telah diputuskan.
Latihan Orient Shield tahun ini melibatkan sekitar 3.700 personel dari Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Kegiatan berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk wilayah Hokkaido yang berada relatif dekat dengan kawasan Timur Jauh Rusia. Penempatan Typhon menjadi salah satu bagian yang paling mendapatkan perhatian karena kemampuan sistem tersebut membawa rudal dengan jangkauan lebih jauh dibandingkan banyak persenjataan taktis berbasis darat. Tomahawk yang dapat digunakan melalui Typhon memiliki jangkauan sekitar 1.600 kilometer. Kemampuan tersebut membuat sistem Typhon memiliki nilai strategis dalam arsitektur pertahanan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, penempatan sistem rudal dalam latihan militer merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan operasi bersama dan daya tangkal di kawasan. Typhon sebelumnya juga telah ditempatkan di sejumlah negara Asia dalam konteks latihan dan penguatan kemampuan militer. Pada 2025, sistem yang sama pernah ditempatkan sementara di Pangkalan Udara Korps Marinir AS Iwakuni di Jepang dalam latihan Resolute Dragon. Sistem tersebut juga pernah ditempatkan di Filipina sejak 2024 dan memicu keberatan keras dari China. Perkembangan ini menunjukkan bahwa Typhon menjadi salah satu unsur yang semakin menonjol dalam strategi militer Amerika Serikat di Indo-Pasifik.
Protes terhadap Jepang berlangsung ketika hubungan Moskow dan Tokyo masih dibayangi sengketa wilayah Kepulauan Kuril bagian selatan. Wilayah yang dikuasai Rusia tersebut diklaim Jepang dan menjadi salah satu persoalan utama hubungan kedua negara sejak berakhirnya Perang Dunia II. Perselisihan itu membuat Rusia dan Jepang belum menandatangani perjanjian damai formal untuk mengakhiri permusuhan pada masa perang. Dalam pernyataannya mengenai Typhon, Zakharova kembali menyinggung persoalan tersebut dengan meminta Jepang mengakui hasil Perang Dunia II, termasuk aspek teritorial terkait Kuril selatan. Rusia juga menuduh Jepang bergerak menuju kebijakan remiliterisasi, sementara Tokyo selama ini menempatkan penguatan pertahanan dalam konteks memburuknya lingkungan keamanan regional.
Ketegangan terkait Typhon menambah daftar persoalan keamanan antara Rusia dan Jepang di kawasan Asia-Pasifik. Moskow memandang peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat dan sekutunya di dekat wilayah Rusia sebagai perkembangan yang perlu diwaspadai. Di sisi lain, Jepang terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan Washington dan mitra lainnya di tengah meningkatnya tantangan keamanan regional. Perbedaan pandangan tersebut membuat penempatan sistem rudal menjadi isu yang tidak hanya berkaitan dengan latihan militer, tetapi juga keseimbangan strategis kawasan. Keberadaan senjata berjangkauan menengah berpotensi terus menjadi sumber ketegangan ketika negara-negara di kawasan meningkatkan kemampuan pertahanan masing-masing.
Rusia kini menunggu respons Jepang terhadap tuntutan penarikan sistem Typhon tersebut. Moskow menegaskan bahwa keberatan mereka tidak berubah meskipun sistem rudal ditempatkan dalam kerangka latihan bersama dan bersifat sementara. Persoalan ini diperkirakan tetap menjadi bagian dari komunikasi diplomatik kedua negara selama aktivitas militer bersama berlangsung. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kebijakan Tokyo dan Washington mengenai keberadaan Typhon setelah latihan berakhir. Bagi kawasan Asia-Pasifik, polemik tersebut sekaligus memperlihatkan meningkatnya sensitivitas terhadap penempatan sistem persenjataan jarak menengah di tengah persaingan keamanan antara kekuatan besar.