Jakarta, 16 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia memiliki fundamental yang kuat karena didukung kekayaan sumber daya alam dalam jumlah besar. Ia menyoroti sejumlah komoditas strategis seperti nikel, tembaga, hingga logam tanah jarang atau rare earth elements yang semakin penting bagi perkembangan industri dan teknologi global. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam dialog bersama jurnalis senior dan pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor. Menurut Prabowo, besarnya sumber daya membuat Indonesia memiliki posisi strategis di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis. Ia menyebut cadangan nikel dan tembaga Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting bagi pembangunan ekonomi apabila mampu dikelola secara optimal.
Prabowo mengatakan nikel dan tembaga mempunyai peran besar dalam perkembangan teknologi masa depan. Nikel banyak digunakan dalam industri baja tahan karat serta menjadi salah satu material penting dalam pengembangan baterai kendaraan listrik. Sementara tembaga dibutuhkan dalam jaringan listrik, perangkat elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, dan berbagai infrastruktur modern. Permintaan terhadap kedua komoditas tersebut berpotensi terus berkembang seiring berlangsungnya elektrifikasi global. Kondisi itu membuat negara-negara yang mempunyai cadangan mineral strategis mendapatkan perhatian semakin besar. Indonesia berada dalam posisi penting karena memiliki sumber daya yang dibutuhkan berbagai industri tersebut.
Selain nikel dan tembaga, Prabowo secara khusus menyoroti potensi logam tanah jarang Indonesia. Ia menyatakan Indonesia memiliki sumber daya LTJ yang sangat besar dan menyebut posisinya berada di bawah China. Logam tanah jarang merupakan kelompok mineral yang digunakan dalam berbagai teknologi seperti magnet berkinerja tinggi, perangkat elektronik, kendaraan listrik, turbin angin, hingga sejumlah teknologi pertahanan. Meski demikian, data resmi pemerintah masih membedakan antara sumber daya yang telah teridentifikasi dengan cadangan yang telah terbukti ekonomis untuk ditambang. Pengembangan LTJ Indonesia juga masih membutuhkan eksplorasi, teknologi pemisahan, fasilitas pengolahan, dan investasi lanjutan. Karena itu, potensi geologi yang besar belum otomatis dapat seluruhnya dimanfaatkan secara komersial.
Data pemerintah mengenai sumber daya mineral menunjukkan Indonesia memang mempunyai basis mineral yang besar. Selain nikel, tembaga dan LTJ, Indonesia memiliki sumber daya emas, timah, bauksit, kobalt serta berbagai mineral lainnya. Kekayaan tersebut tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik geologi yang berbeda. Tantangannya adalah meningkatkan nilai ekonomi tanpa hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir mendorong hilirisasi agar pengolahan dilakukan semakin jauh di dalam negeri. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat industri nasional.
Prabowo juga menyinggung potensi sumber daya energi yang masih dapat dikembangkan. Ia menyatakan terdapat temuan ladang gas dalam jumlah besar serta potensi emas dan mineral lainnya. Namun, pernyataannya tidak merinci lokasi maupun volume cadangan dari temuan yang dimaksud. Tahapan eksplorasi menjadi penting untuk menentukan ukuran sumber daya dan kelayakan ekonominya. Pengembangan lapangan energi juga membutuhkan investasi besar serta infrastruktur pendukung. Pemerintah berkepentingan memastikan pengelolaannya memberikan penerimaan sekaligus mendukung kebutuhan energi nasional.
Besarnya sumber daya alam juga membawa tantangan dalam tata kelola. Aktivitas pertambangan membutuhkan pengawasan terhadap perizinan, penerimaan negara, dampak lingkungan, serta kepatuhan perusahaan. Pemerintah perlu memastikan mineral yang diproduksi dan diperdagangkan tercatat dengan baik sehingga manfaat ekonominya tidak hilang melalui praktik ilegal. Penegakan hukum terhadap pertambangan tanpa izin dan penyelundupan menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan negara. Pada saat yang sama, kegiatan pertambangan perlu memperhatikan pemulihan lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Nilai strategis mineral akan semakin besar apabila pengelolaannya dilakukan secara transparan dan berkelanjutan.
Pemerintah juga tengah mendorong penguatan posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis. Salah satu rencana yang telah diumumkan adalah pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Pemerintah berharap mekanisme tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas yang diproduksi dalam jumlah besar di dalam negeri. Langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya meningkatkan transparansi perdagangan dan memastikan nilai tambah lebih banyak berada di Indonesia. Namun, efektivitas kebijakan akan bergantung pada regulasi, kesiapan industri, serta mekanisme perdagangan yang nantinya diterapkan.
Kekayaan nikel, tembaga, logam tanah jarang, gas, emas, dan mineral lainnya memberikan Indonesia modal besar dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Namun, besarnya sumber daya belum dengan sendirinya menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menghadapi tantangan mengubah kekayaan tersebut menjadi industri bernilai tambah, penerimaan negara, lapangan kerja, dan kemampuan teknologi nasional. Pernyataan Prabowo menempatkan pengelolaan sumber daya alam sebagai salah satu unsur penting dalam memperkuat posisi ekonomi Indonesia. Hilirisasi, pengawasan pertambangan, pengembangan teknologi, dan peningkatan kemampuan industri domestik akan menentukan seberapa besar manfaat yang dapat diperoleh. Pengelolaan yang efektif menjadi kunci agar kekuatan sumber daya alam dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.