Jakarta, 3 September 2026 – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Ukraina kehilangan sekitar 8.000 hingga 12.000 personel militer setiap bulan di tengah perang yang masih berlangsung antara kedua negara. Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam sidang pleno Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok, Rusia, Kamis. Menurut Putin, jumlah personel Ukraina yang menjadi korban setiap bulan lebih besar dibandingkan jumlah tentara yang masuk melalui mobilisasi maupun personel yang kembali bertugas setelah menjalani perawatan. Ia juga mengklaim kondisi tersebut membuat kekurangan personel di tubuh militer Ukraina terus bertambah dari bulan ke bulan. Putin mengaitkan situasi tersebut dengan tingkat motivasi pasukan Ukraina yang menurutnya semakin rendah serta persoalan desersi yang masih terjadi. Namun, angka mengenai kerugian personel yang disampaikan Rusia merupakan klaim dari salah satu pihak yang berperang dan sulit diverifikasi secara independen karena Moskow dan Kyiv selama konflik berlangsung kerap menyampaikan data korban yang berbeda.
Putin mengatakan tekanan terhadap jumlah personel menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Ukraina setelah perang berlangsung lebih dari empat tahun. Menurut penilaiannya, jumlah tentara yang dapat dihimpun melalui mobilisasi tidak mampu sepenuhnya mengimbangi personel yang keluar dari kekuatan aktif akibat tewas, terluka, maupun berbagai faktor lainnya. Rusia juga berulang kali menyoroti kebijakan mobilisasi Ukraina sebagai indikasi bahwa Kyiv membutuhkan tambahan personel untuk mempertahankan garis depan yang sangat panjang. Ukraina sendiri terus melakukan penyesuaian terhadap sistem perekrutan dan pengelolaan personel untuk mempertahankan kemampuan militernya. Kebutuhan tersebut menjadi semakin kompleks karena pasukan harus ditempatkan tidak hanya untuk menghadapi operasi darat Rusia, tetapi juga menjaga wilayah perbatasan dan sejumlah kawasan strategis lainnya. Persoalan sumber daya manusia dengan demikian tetap menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuan kedua negara mempertahankan operasi militer dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Putin juga menyinggung persoalan desersi di lingkungan militer Ukraina. Ia mengklaim ratusan ribu perkara yang berkaitan dengan desersi telah diproses oleh otoritas Ukraina dan menggunakan angka tersebut untuk menggambarkan tekanan yang menurut Moskow sedang terjadi di tubuh angkatan bersenjata negara tetangganya. Desersi memang menjadi salah satu persoalan yang dihadapi militer dalam konflik berkepanjangan karena kelelahan, tekanan psikologis, rotasi pasukan, serta tingginya intensitas pertempuran dapat memengaruhi kondisi personel. Namun, angka perkara tidak selalu dapat diterjemahkan secara langsung menjadi jumlah tentara yang meninggalkan medan perang secara permanen karena karakter dan status setiap kasus dapat berbeda. Klaim Putin mengenai skala persoalan tersebut juga menjadi bagian dari narasi Rusia mengenai melemahnya kemampuan Ukraina mempertahankan perang. Informasi dari pihak-pihak yang terlibat konflik tetap membutuhkan kehati-hatian karena perang informasi berjalan bersamaan dengan pertempuran di lapangan.
Pernyataan mengenai kerugian Ukraina muncul ketika kondisi medan tempur tetap dinamis di sejumlah bagian garis depan. Rusia terus menjalankan operasi ofensif, terutama di kawasan timur Ukraina, sementara pasukan Kyiv berusaha mempertahankan posisi sekaligus melancarkan serangan terhadap konsentrasi pasukan dan jalur logistik lawan. Kedua pihak menggunakan artileri, drone, rudal, serta berbagai sistem persenjataan jarak jauh dalam intensitas tinggi sehingga kerugian personel maupun peralatan terus terjadi. Perubahan penguasaan wilayah berlangsung berbeda pada setiap sektor dan tidak selalu mencerminkan perubahan strategis dalam waktu singkat. Rusia menyatakan pasukannya terus bergerak maju, sedangkan Ukraina menekankan bahwa perlawanan tetap berlangsung dan kerugian besar juga dialami pasukan Rusia. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perang masih berkembang sebagai konflik berkepanjangan yang menuntut kemampuan mempertahankan personel, peralatan, amunisi, dan logistik.
Di sisi lain, Rusia sendiri menghadapi persoalan kerugian personel yang juga menjadi perhatian dalam berbagai penilaian mengenai perang. Ukraina secara rutin mengumumkan estimasi kerugian pasukan Rusia yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan angka yang diakui Moskow. Sejumlah penilaian independen juga menunjukkan Rusia terus menanggung tingkat korban yang tinggi untuk mempertahankan operasi ofensifnya, meskipun besaran pastinya sulit dipastikan. Perbedaan metodologi, keterbatasan akses ke medan perang, dan kepentingan masing-masing pihak membuat data korban menjadi salah satu informasi paling sulit diverifikasi selama konflik berlangsung. Moskow dan Kyiv memiliki kepentingan mempertahankan moral pasukan serta dukungan publik sehingga angka kerugian lawan sering menjadi bagian dari komunikasi strategis mereka. Oleh karena itu, klaim mengenai korban dari kedua belah pihak perlu dipandang dalam konteks perang informasi yang menyertai operasi militer.
Putin juga menggunakan forum di Vladivostok untuk menepis kemungkinan Rusia membutuhkan mobilisasi baru dalam waktu dekat. Ia menyatakan tidak terdapat kondisi yang mengharuskan pemerintah melakukan mobilisasi tambahan dan menilai spekulasi mengenai rencana tersebut sebagai bagian dari operasi informasi. Rusia selama ini berusaha memenuhi kebutuhan personel melalui perekrutan sukarela, kontrak militer, berbagai insentif, serta mekanisme lain tanpa mengulangi mobilisasi besar seperti yang dilakukan pada 2022. Kemampuan mempertahankan arus personel baru menjadi penting karena operasi militer berlangsung di garis depan yang sangat panjang dan membutuhkan rotasi pasukan secara berkelanjutan. Kerugian yang tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem perekrutan apabila jumlah personel baru tidak mampu menggantikan mereka yang keluar dari kekuatan tempur. Persoalan tersebut menjadi tantangan yang juga dihadapi Ukraina ketika perang memasuki tahun kelima.
Perang berkepanjangan telah membuat persoalan tenaga manusia semakin menentukan selain kemampuan teknologi dan persenjataan. Kedua negara membutuhkan personel tidak hanya sebagai pasukan tempur, tetapi juga untuk mengoperasikan drone, sistem pertahanan udara, artileri, komunikasi, logistik, intelijen, serta berbagai fungsi pendukung lainnya. Melatih personel baru hingga memiliki kemampuan yang dibutuhkan memerlukan waktu sehingga jumlah rekrutan saja tidak selalu menggambarkan kekuatan aktual sebuah angkatan bersenjata. Pengalaman tempur juga menjadi faktor penting, terutama untuk posisi yang membutuhkan keterampilan teknis dan kepemimpinan lapangan. Kehilangan personel berpengalaman dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sekadar berkurangnya jumlah tentara secara statistik. Karena itu, kemampuan melakukan rotasi, mempertahankan personel berpengalaman, dan memberikan pelatihan kepada rekrutan baru menjadi bagian penting dari strategi kedua negara.
Persoalan mobilisasi di Ukraina juga mempunyai dimensi sosial karena pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan militer dan keberlangsungan aktivitas ekonomi. Semakin banyak penduduk usia produktif yang masuk ke angkatan bersenjata, semakin besar pula tekanan terhadap pasar tenaga kerja dan sektor ekonomi tertentu. Pada saat yang sama, Ukraina membutuhkan personel dalam jumlah besar untuk mempertahankan wilayah dan menggantikan pasukan yang telah bertugas dalam waktu panjang. Pemerintah menghadapi kebutuhan untuk memastikan proses mobilisasi berjalan sesuai aturan sekaligus mempertahankan dukungan masyarakat terhadap pertahanan nasional. Perdebatan mengenai usia, pengecualian, prosedur perekrutan, dan masa tugas menjadi bagian dari tantangan yang muncul dalam perang berkepanjangan. Situasi serupa juga dihadapi Rusia dalam bentuk berbeda ketika Moskow berusaha memenuhi kebutuhan militer tanpa menimbulkan tekanan sosial yang terlalu besar melalui mobilisasi baru.
Eastern Economic Forum 2026 menjadi salah satu forum yang digunakan Putin untuk membahas tidak hanya persoalan ekonomi, tetapi juga perkembangan perang dan posisi Rusia dalam menghadapi Ukraina. Forum tersebut berlangsung di Vladivostok pada 1 hingga 4 September dan menghadirkan berbagai pembahasan mengenai ekonomi serta hubungan Rusia dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan Putin mengenai kondisi militer Ukraina muncul ketika perhatian internasional kembali tertuju pada kemungkinan perkembangan diplomasi untuk menghentikan perang. Meski berbagai negara terus mendorong penyelesaian melalui perundingan, pertempuran dan serangan jarak jauh masih berlangsung. Rusia dan Ukraina juga tetap memiliki perbedaan mendasar mengenai wilayah, jaminan keamanan, serta syarat yang harus dipenuhi dalam penyelesaian konflik. Kondisi tersebut membuat prospek berakhirnya perang masih bergantung pada perkembangan militer sekaligus proses diplomatik.
Klaim Putin bahwa Ukraina kehilangan hingga 12.000 tentara setiap bulan pada akhirnya memperlihatkan semakin pentingnya persoalan ketersediaan personel dalam perang yang telah berlangsung bertahun-tahun. Moskow menggunakan angka tersebut untuk menggambarkan tekanan yang dihadapi militer Ukraina sekaligus menegaskan keyakinannya terhadap keberlanjutan kemampuan tempur Rusia. Namun, data korban dalam konflik tetap menjadi persoalan yang sulit dipastikan secara independen karena kedua pihak menyampaikan angka yang berbeda mengenai kerugian masing-masing maupun lawannya. Perkembangan di medan perang juga menunjukkan bahwa Rusia dan Ukraina sama-sama harus mempertahankan kemampuan merekrut, melatih, dan mengganti personel di tengah tingkat pertempuran yang tinggi. Selama tidak terdapat kesepakatan politik yang mampu menghentikan operasi militer, kebutuhan tenaga manusia akan tetap menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan kedua negara melanjutkan perang. Dinamika tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih menghadapi jalan panjang sebelum tekanan militer dapat benar-benar digantikan oleh penyelesaian melalui jalur diplomasi.