Jakarta, 27 September 2026 – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan depan. Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak melemah hingga kisaran Rp18.150–Rp18.200 per dolar AS. Penguatan indeks dolar AS dan perkembangan geopolitik global menjadi dua faktor utama yang diperkirakan membayangi mata uang Garuda. Pergerakan harga minyak dunia juga akan menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi kebutuhan devisa Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah terlihat sepanjang perdagangan pekan terakhir September. Pada 24 September, rupiah sempat ditutup sekitar Rp17.916 per dolar AS atau melemah 0,55 persen pada perdagangan hari tersebut. Secara mingguan, mata uang Indonesia juga berada dalam tren pelemahan mendekati satu persen seiring meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar. Kondisi tersebut membawa rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS masih memiliki ruang menguat menuju level 102,20. Penguatan dolar dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang karena investor cenderung mengalihkan dana menuju aset berbasis dolar ketika imbal hasil di Amerika Serikat meningkat. Pasar juga masih memperhitungkan prospek suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama. Kombinasi dolar yang kuat dan tingginya imbal hasil US Treasury menjadi tantangan bagi pemulihan rupiah dalam jangka pendek.
Selain kebijakan moneter global, perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen penting yang perlu dicermati. Ketegangan berkepanjangan berpotensi mempertahankan harga energi pada tingkat tinggi sekaligus meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dapat menambah kebutuhan dolar untuk pembiayaan impor. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan dan pergerakan nilai tukar.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan pada 6,50 persen. Kebijakan tersebut berlangsung ketika rupiah menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS. Bank sentral juga memberi sinyal penggunaan berbagai instrumen pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski tekanan eksternal masih kuat, ruang penguatan rupiah belum sepenuhnya tertutup. Sejumlah proyeksi menempatkan pergerakan rupiah pekan depan dalam rentang yang cukup lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar. Data ekonomi domestik yang akan dirilis pada awal Oktober, termasuk inflasi, aktivitas manufaktur, dan perdagangan, berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan mata uang. Respons investor asing terhadap pasar obligasi Indonesia juga akan ikut menentukan kekuatan rupiah menghadapi dolar AS.
Dengan berbagai faktor tersebut, perdagangan rupiah pada pekan 28 September hingga 2 Oktober diperkirakan tetap fluktuatif. Arah dolar AS, imbal hasil US Treasury, harga minyak, perkembangan geopolitik, serta aliran modal asing akan menjadi faktor utama yang dipantau pelaku pasar. Level Rp18.000 per dolar AS diperkirakan tetap menjadi area psikologis penting dalam menentukan arah pergerakan berikutnya. Perkembangan data domestik dan langkah stabilisasi Bank Indonesia akan menjadi penyeimbang terhadap tekanan yang berasal dari pasar global.