Banjarmasin, 20 September 2026 – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan menerima jenazah ke-10 korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa. Jenazah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin pada Minggu dan langsung menjalani proses identifikasi. Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid mengatakan tim DVI segera melakukan pemeriksaan setelah korban diserahkan dari operasi SAR. Dengan penemuan terbaru tersebut, jumlah korban yang ditemukan mencapai 118 orang. Rinciannya terdiri atas 108 orang selamat dan 10 korban meninggal dunia, sementara 125 orang lainnya masih dalam pencarian dari total 243 penumpang dan awak kapal.
Korban ke-10 ditemukan tim penyelam Basarnas Special Group bersama unsur SAR gabungan sekitar pukul 14.14 WITA. Penemuan terjadi ketika penyelam melakukan pencarian di bagian dalam badan kapal yang telah tenggelam di dasar Laut Jawa. Setelah berhasil dikeluarkan, jenazah dievakuasi menggunakan sekoci menuju KN SAR Kamajaya yang berada di sekitar lokasi operasi. Korban selanjutnya diterbangkan menggunakan Helikopter HR 3601 Basarnas menuju Lanud Sjamsudin Noor di Banjarbaru. Dari lokasi tersebut, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin untuk ditangani tim DVI.
Proses identifikasi dilakukan dengan mencocokkan data post mortem dari jenazah dengan data ante mortem yang sebelumnya dikumpulkan dari keluarga. Waktu yang diperlukan untuk memastikan identitas korban dapat berbeda bergantung pada kondisi jenazah. Apabila kondisi fisik masih relatif baik dan memiliki ciri yang mudah dikenali, proses pencocokan dapat dilakukan lebih cepat. Sebaliknya, kondisi jenazah yang telah mengalami perubahan setelah berada cukup lama di air membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam. Data gigi, sidik jari, ciri medis, barang pribadi hingga sampel DNA dapat digunakan sebagai bagian dari proses identifikasi.
Sebelum penemuan korban terbaru, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi sembilan korban meninggal dunia. Tiga korban yang diumumkan teridentifikasi pada Sabtu adalah Muhammad Abdianoor berusia 30 tahun dan Yuli berusia 29 tahun asal Banjarmasin serta Surya berusia 59 tahun asal Kabupaten Tapin. Identifikasi dilakukan melalui sejumlah metode berbeda sesuai kondisi masing-masing jenazah. Muhammad Abdianoor dikenali berdasarkan ciri medis, Yuli melalui struktur gigi, sedangkan Surya melalui sidik jari dan ciri medis. Setelah identitas dipastikan, jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga untuk proses pemakaman.
Tim DVI sebelumnya juga telah mengidentifikasi enam korban lain yang ditemukan dalam rangkaian operasi pencarian KM Virgo Transport 8. Proses identifikasi melibatkan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalsel, Pusdokkes Polri serta personel Inafis. Data dari keluarga menjadi bagian penting karena digunakan sebagai pembanding terhadap hasil pemeriksaan jenazah. Keluarga yang masih kehilangan anggota keluarganya juga diminta terus berkoordinasi dengan posko ante mortem untuk melengkapi informasi yang diperlukan. Semakin lengkap data pembanding yang tersedia, semakin besar peluang tim mempercepat proses identifikasi ketika korban ditemukan.
Operasi pencarian terhadap korban KM Virgo Transport 8 terus berlangsung dengan perhatian diarahkan pada badan kapal yang telah ditemukan di dasar laut. Penemuan korban dari dalam kapal membuat penyelaman menjadi bagian penting dalam operasi lanjutan, meski prosesnya memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tim penyelam harus mempertimbangkan kondisi struktur kapal, jarak pandang di bawah air serta keselamatan personel ketika memasuki bagian bangkai. Penggunaan kapal SAR, sekoci dan helikopter juga mendukung percepatan evakuasi apabila korban berhasil ditemukan. Setiap temuan selanjutnya akan dibawa menuju fasilitas yang telah disiapkan untuk menjalani proses identifikasi.
Dengan bertambahnya korban meninggal menjadi 10 orang, fokus operasi tetap diarahkan pada pencarian 125 orang yang hingga perkembangan terakhir belum ditemukan. Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian melalui operasi permukaan maupun penyelaman di sekitar bangkai kapal dan wilayah yang telah dipetakan. Pada saat yang sama, Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin tetap menjadi pusat penting dalam penanganan serta identifikasi jenazah yang berhasil dievakuasi. Koordinasi antara Basarnas, kepolisian, TNI, pemerintah daerah dan unsur lainnya terus dilakukan untuk mendukung proses pencarian. Keluarga korban masih menunggu perkembangan operasi dengan harapan anggota keluarga yang belum ditemukan dapat segera dievakuasi dan memperoleh kepastian.