Jakarta, 26 September 2026 – Pondok Pesantren Darunnajah menerapkan sistem pendidikan yang mengadaptasi model Pondok Modern Darussalam Gontor untuk menjawab kebutuhan pendidikan pesantren di lingkungan perkotaan. Pendekatan tersebut memadukan pendidikan agama, akademik, penguasaan bahasa, pembentukan karakter, dan kehidupan berasrama. Sistem pendidikan dirancang agar santri tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga menjalani proses pembinaan selama 24 jam. Lingkungan pesantren menjadi bagian penting dalam membentuk kemandirian, kedisiplinan, serta kemampuan sosial para santri.
Penerapan sistem tersebut tidak terlepas dari sejarah dan hubungan Darunnajah dengan tradisi pendidikan Gontor. Sejumlah prinsip pendidikan modern pesantren diterapkan dengan menyesuaikan kondisi masyarakat perkotaan dan perkembangan kebutuhan pendidikan. Kehidupan santri diatur melalui kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Pola tersebut membuat proses pendidikan berlangsung secara menyeluruh dan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
Penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Kedua bahasa digunakan untuk memperluas kemampuan komunikasi sekaligus membantu santri mengakses pengetahuan dan literatur yang lebih luas. Pembiasaan bahasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga santri memperoleh ruang untuk mempraktikkan kemampuan mereka secara langsung. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk membangun kepercayaan diri ketika berkomunikasi di lingkungan yang lebih luas.
Selain kegiatan akademik, pembentukan karakter mendapatkan perhatian melalui organisasi dan aktivitas santri. Para santri dilatih menjalankan tanggung jawab, mengatur kegiatan, bekerja sama, serta menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan berasrama. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan yang berjalan berdampingan dengan pendidikan formal. Disiplin dan kemandirian juga dibangun melalui aturan serta rutinitas yang diterapkan secara konsisten.
Keberadaan Darunnajah di lingkungan perkotaan menghadirkan tantangan tersendiri dalam mempertahankan karakter pendidikan pesantren. Perkembangan teknologi, perubahan pola interaksi masyarakat, serta derasnya informasi digital menjadi bagian dari kondisi yang harus dihadapi santri. Pesantren berupaya menyesuaikan metode pendidikan tanpa meninggalkan prinsip utama pembinaan yang telah diterapkan. Teknologi ditempatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran dengan penggunaan yang tetap diarahkan dan diawasi.
Model pendidikan berasrama juga memberikan kesempatan kepada guru dan pengasuh untuk memantau perkembangan santri secara lebih dekat. Pembinaan tidak hanya dilakukan ketika muncul persoalan, tetapi berlangsung melalui pendampingan dalam aktivitas sehari-hari. Interaksi antara santri, guru, dan pengasuh menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Dengan lingkungan yang terstruktur, pesantren berupaya menciptakan kebiasaan positif yang dapat terus dibawa santri setelah menyelesaikan pendidikan.
Adaptasi sistem pendidikan Gontor yang diterapkan Darunnajah menunjukkan bahwa pola pendidikan pesantren dapat dikembangkan di tengah karakter kehidupan perkotaan. Penguatan ilmu agama tetap berjalan bersama pendidikan umum, bahasa, kepemimpinan, dan pembentukan karakter. Sistem tersebut diharapkan menghasilkan lulusan yang memiliki dasar keagamaan sekaligus mampu menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman. Darunnajah pun menempatkan pendidikan pesantren sebagai proses pembentukan manusia secara menyeluruh, bukan sekadar kegiatan belajar di dalam kelas.