Jakarta, 5 Oktober 2026 – Wakil Menteri Luar Negeri Havas mendorong penyusunan nota kesepahaman atau MoU mengenai kemitraan mineral hijau antara Indonesia dan Chile. Gagasan tersebut diarahkan untuk membangun kerangka kerja sama yang lebih terstruktur dalam pemanfaatan mineral strategis dan pengembangan industri yang mendukung transisi energi. Kemitraan itu juga membuka peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara pada sektor yang memiliki prospek jangka panjang.
Indonesia dan Chile memiliki kepentingan dalam perkembangan rantai pasok mineral global seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk teknologi rendah karbon. Mineral strategis dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik, baterai, sistem penyimpanan energi, serta berbagai teknologi energi terbarukan. Kerja sama bilateral dapat menjadi sarana untuk mengembangkan potensi tersebut dengan menempatkan nilai tambah dan keberlanjutan sebagai bagian penting dalam pengelolaannya.
MoU yang diusulkan dapat menjadi landasan awal untuk menentukan ruang lingkup kolaborasi kedua negara. Kerja sama berpeluang mencakup investasi, perdagangan, pengolahan mineral, penelitian, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pertukaran teknologi. Pembentukan kerangka yang jelas diperlukan agar kolaborasi dapat berkembang menjadi proyek dan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat konkret.
Bagi Indonesia, kemitraan mineral hijau sejalan dengan upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya melalui pengembangan industri pengolahan di dalam negeri. Hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mendorong penguasaan teknologi dan pembentukan ekosistem industri yang lebih kuat. Kolaborasi internasional dapat menjadi salah satu jalur untuk mempercepat proses tersebut.
Aspek keberlanjutan menjadi perhatian penting karena pengembangan mineral strategis tetap memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Penerapan teknologi yang lebih efisien, pengelolaan limbah, pengurangan emisi, serta tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab diperlukan agar pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Standar keberlanjutan juga semakin menentukan daya saing produk mineral di pasar internasional.
Indonesia dan Chile masih perlu membahas lebih lanjut bentuk serta mekanisme kemitraan yang akan dikembangkan. Dialog antarpemerintah dapat dilanjutkan dengan keterlibatan pelaku usaha, investor, lembaga penelitian, dan pihak terkait lainnya. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi bidang kerja sama yang paling potensial sekaligus memastikan kepentingan kedua negara dapat terakomodasi.
Dorongan penyusunan MoU mineral hijau menunjukkan upaya memperluas hubungan Indonesia dan Chile ke sektor ekonomi masa depan. Apabila diwujudkan dalam program konkret, kemitraan dapat mendukung investasi, pengembangan teknologi, penguatan rantai pasok, serta peningkatan nilai tambah mineral. Kerja sama tersebut juga berpotensi menjadi bagian dari strategi kedua negara menghadapi meningkatnya kebutuhan mineral untuk mendukung transformasi energi global.