Jakarta, 20 Oktober 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap Jakarta dapat berkembang menjadi kota sinema bertaraf internasional seperti Busan di Korea Selatan. Harapan tersebut mencerminkan keinginan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat posisi ibu kota sebagai pusat industri kreatif, khususnya perfilman. Menurut Pramono, Jakarta memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem perfilman yang mampu menarik perhatian pelaku industri nasional maupun internasional. Pengembangan sektor tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai kota budaya.
Busan dikenal sebagai salah satu pusat perfilman penting di Asia berkat penyelenggaraan Busan International Film Festival yang memiliki reputasi internasional. Festival tersebut menjadi wadah bagi sineas dari berbagai negara untuk memperkenalkan karya, membangun jaringan, dan mengembangkan kerja sama industri. Keberhasilan Busan dalam membangun identitas sebagai kota sinema menjadi contoh bagaimana kegiatan perfilman dapat memberikan dampak terhadap pariwisata dan perekonomian daerah. Jakarta dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan pendekatan serupa dengan memanfaatkan potensi industri kreatif yang telah berkembang. Namun, pencapaian tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang dan dukungan berbagai pemangku kepentingan.
Jakarta memiliki sejumlah keunggulan dalam pengembangan industri perfilman, termasuk keberadaan rumah produksi, tenaga kreatif, serta fasilitas pendukung kegiatan hiburan. Banyak aktivitas produksi film nasional berlangsung di Jakarta karena kota ini menjadi pusat kegiatan bisnis dan industri media. Selain itu, keberagaman budaya dan karakter kawasan perkotaan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pembuat film. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui penyediaan fasilitas produksi dan peningkatan akses terhadap ruang pertunjukan. Pemerintah daerah diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan industri perfilman secara berkelanjutan.
Pengembangan Jakarta sebagai kota sinema juga berkaitan dengan upaya memperkuat penyelenggaraan festival film dan kegiatan apresiasi karya audiovisual. Festival dapat menjadi ruang pertemuan antara pembuat film, investor, distributor, dan masyarakat penonton. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan kesempatan bagi sineas untuk memperkenalkan karya, tetapi juga membuka peluang kerja sama produksi dan distribusi. Penyelenggaraan festival secara konsisten dapat membantu membangun identitas Jakarta sebagai pusat kegiatan perfilman. Dengan dukungan promosi yang tepat, kegiatan tersebut berpotensi menarik kunjungan pelaku industri dan wisatawan dari berbagai negara.
Selain festival, penguatan infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan dalam membangun ekosistem perfilman yang kompetitif. Ketersediaan studio produksi, fasilitas pascaproduksi, lokasi pengambilan gambar, dan ruang pemutaran film dapat membantu meningkatkan efisiensi kegiatan industri. Pemerintah daerah juga dapat berperan dalam mempermudah koordinasi perizinan produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dukungan terhadap penggunaan ruang publik sebagai lokasi syuting perlu mempertimbangkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Infrastruktur yang memadai diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Jakarta bagi rumah produksi nasional maupun internasional.
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota sinema. Industri perfilman membutuhkan tenaga profesional dengan berbagai keahlian, mulai dari penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, hingga pengolahan suara dan efek visual. Kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas film, dan pelaku industri dapat membantu memperluas kesempatan pelatihan. Program pengembangan talenta muda diperlukan agar semakin banyak sineas memiliki kemampuan bersaing di tingkat internasional. Selain itu, dukungan terhadap pembuat film independen dapat memperkaya keberagaman karya yang dihasilkan industri perfilman Jakarta.
Dampak ekonomi dari pengembangan kota sinema berpotensi menjangkau berbagai sektor di luar industri film itu sendiri. Aktivitas produksi dan penyelenggaraan festival dapat meningkatkan permintaan terhadap layanan perhotelan, transportasi, kuliner, dan penyedia jasa kreatif. Kehadiran kegiatan perfilman internasional juga dapat memperluas promosi pariwisata serta memperkenalkan karakter budaya Jakarta kepada masyarakat dunia. Namun, manfaat ekonomi tersebut membutuhkan pengelolaan yang terencana agar dapat dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta menjadi penting untuk menciptakan kegiatan yang memiliki dampak jangka panjang.
Harapan Pramono Anung menjadikan Jakarta sebagai kota sinema seperti Busan menunjukkan perhatian terhadap pengembangan industri kreatif sebagai salah satu kekuatan ekonomi perkotaan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan strategi yang mencakup peningkatan fasilitas, pengembangan talenta, penyelenggaraan festival, dan penguatan jaringan kerja sama internasional. Jakarta juga perlu membangun identitas perfilman yang sesuai dengan karakter budaya dan potensi kreatifnya sendiri. Dukungan kebijakan yang konsisten diharapkan mampu menciptakan ruang lebih luas bagi sineas untuk menghasilkan karya berkualitas. Melalui pengembangan yang berkelanjutan, Jakarta berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri perfilman penting di kawasan Asia.