Jakarta, 4 Juni 2026 – Pemerintah Kuwait mengambil langkah diplomatik tegas dengan mengusir dua diplomat Iran dan mengurangi jumlah personel misi diplomatik Iran di negara tersebut. Keputusan itu diambil setelah serangan drone dan rudal yang dituduhkan kepada Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan korban jiwa, puluhan luka-luka, dan kerusakan pada fasilitas bandara.
Kementerian Luar Negeri Kuwait memanggil kuasa usaha Iran untuk menyampaikan nota protes resmi. Dalam pernyataannya, Kuwait menegaskan bahwa wilayah dan ruang udaranya tidak digunakan untuk menyerang negara mana pun serta mengecam keras serangan yang dianggap melanggar kedaulatan negara. Dua diplomat Iran diperintahkan meninggalkan Kuwait sebagai bagian dari respons diplomatik tersebut.
Insiden ini terjadi setelah serangan drone dan rudal yang menghantam Bandara Internasional Kuwait. Otoritas Kuwait melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang merusak terminal bandara dan mengganggu operasional penerbangan untuk sementara waktu.
Iran membantah bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di bandara tersebut. Namun, Amerika Serikat dan Kuwait menyatakan bahwa serangan berasal dari sistem senjata Iran dalam rangkaian eskalasi konflik yang kembali memanas di kawasan Teluk. Ketegangan meningkat setelah serangkaian aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Langkah Kuwait mengusir diplomat Iran menunjukkan meningkatnya ketegangan diplomatik di kawasan Timur Tengah. Para pengamat menilai keputusan tersebut merupakan sinyal bahwa negara-negara Teluk semakin khawatir terhadap meluasnya konflik regional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sementara itu, upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata dan mencegah eskalasi lebih lanjut masih terus dilakukan oleh berbagai pihak internasional.